Meskipun kontroversial, Rizky dan timnya juga terlibat dalam kegiatan sosial. Setiap akhir tahun, mereka menggelar charity race—balapan amal yang hasilnya disumbangkan ke panti asuhan dan rumah sakit anak. “Kami ingin membuktikan bahwa kecepatan juga bisa menjadi energi positif,” ujar Budi, kepala tim.
Rizky (nama samaran), 27 tahun pada tahun 2019, bertemu dengan Alya (nama samaran) melalui sebuah grup komunitas motor. Keduanya langsung klik, berduet dalam balapan drag di trek‑trek pinggir kota, hingga pada akhirnya menjalin hubungan pacaran selama dua tahun. “Kami seperti dua roda yang bersepeda bersamaan, selalu serasi di lintasan dan di kehidupan,” ujar Rizky mengenang masa itu. sepongan mantan yang kini jadi binor dalam mobil indo18 link
Setelah berpisah, Rizky mulai melukai diri dengan kerja‑kerja sampingan di bengkel. Ia menemukan “Indo18”, sebuah mobil sport buatan lokal yang dipadukan dengan mesin turbo 2,2 L, modifikasi suspensi, dan sistem exhaust berdesain agresif. “Mobil ini memang dibangun untuk kecepatan, bukan hanya estetika,” jelas Budi, pemilik bengkel yang pertama kali memperkenalkan Rizky pada mobil tersebut. Meskipun kontroversial, Rizky dan timnya juga terlibat dalam
Rizky kemudian bergabung dengan sebuah geng balap underground bernama Satria Jalanan. Di sinilah ia mendapatkan julukan “Sepong‑Mantan”—sebuah plesetan dari istilah “sepong” (sepong‑sepong) yang dalam bahasa slang berarti “mantan”. Julukan itu sekaligus menjadi lelucon sekaligus pengingat masa lalu yang tak bisa dihindari. Rizky (nama samaran), 27 tahun pada tahun 2019,
Namun, perbedaan ambisi dan tekanan pekerjaan menenggelamkan hubungan mereka. Alya memutuskan pindah ke luar negeri untuk melanjutkan studi, sementara Rizky terpaksa menanggung beban keuangan keluarga setelah ayahnya sakit. Pada 2020, keduanya memutuskan untuk berpisah secara baik‑baik. “Kami masih menghargai satu sama lain, tapi arah hidup kami sudah tak lagi sejalan,” kata Rizky.
Balap jalanan masih menjadi sorotan kepolisian dan media. “Kami tidak mempromosikan kegiatan ilegal, tetapi realita di lapangan tetap ada,” akui Rizky. Ia menegaskan bahwa geng Satria Jalanan kini sudah mengadakan “safety meet”—pertemuan bulanan untuk membahas teknik mengemudi aman, penggunaan helm standar, dan batas kecepatan yang tidak melampaui 180 km/jam di area yang sudah ditentukan.
Malam itu, lampu neon berkelip di pinggir jalanan Sudirman, menyorot kilau merah menggelap pada bodi “Indo18” yang sedang melaju kencang. Di balik setir, bukan lagi sosok yang dulu mengirimkan pesan‑pesan manis lewat WhatsApp, melainkan seorang pria berusia 29‑tahun dengan tatapan tajam dan rambut yang sudah disisir rapi—si “Sepong‑Mantan”. Dari kisah cinta yang berakhir pahit, ia menemukan jalur baru: menjadi “binor” (pengemudi) profesional yang menaklukkan lintasan‑lintasan ilegal di ibukota.