literature

Guru Bangsa Tjokroaminoto Lk21 Review

Film ini berlatar awal abad ke-20, di masa penjajahan Belanda. Tjokroaminoto adalah seorang jurnalis dan pengacara yang kemudian terjun ke politik. Ia mendirikan Sarekat Islam (SI) yang kemudian berkembang menjadi partai massa terbesar di Hindia Belanda.

Plot film ini tidak hanya berhenti pada Tjokroaminoto. Garin Nugroho cerdik menyelipkan tokoh Soekarno (diperankan oleh Daniel Adnan) saat masih menjadi pemuda kos di Surabaya. Di sinilah letak pesan moral film: bahwa seorang pemimpin sejati tidak hanya memimpin, tetapi juga melahirkan pemimpin baru. Soekarno muda belajar retorika, nasionalisme, dan strategi politik dari Tjokroaminoto di rumah bangsawan yang menjadi kos-kosan aktivis tersebut.

Adegan-adegan penuh simbolisme, seperti permainan catur antara Tjokroaminoto dan Belanda, serta pidato-pidatonya yang membakar semangat rakyat, menjadikan film ini wajib tonton bagi para pegiat sejarah.

Di indekosnya di Peneleh, Surabaya, Tjokroaminoto membiarkan murid-muridnya membaca buku dari berbagai paham—nasionalisme, komunis, hingga agama. Ia percaya bahwa dengan bekal pengetahuan yang luas, seseorang akan menemukan jalannya sendiri untuk bangsa. guru bangsa tjokroaminoto lk21

Tjokro opens a boarding house in Surabaya (at Jalan Peneleh VII). This becomes the famous "Islamitische Bond" dormitory, where bright but poor young men from various regions live and study under his guidance.

Here, we meet his most famous student: Sukarno (played by Ihsan Tarore), a young engineering student who is fiery, rebellious, and full of ideas about independence. Tjokro teaches Sukarno not just about Islam and politics, but also about unity, non-cooperation with the Dutch, and the importance of organization.

Other students include Semaoen (communist leader), Musso, and Alimin. The film shows how Tjokro allowed ideological debates—between nationalism, Marxism, and Islamism—to flourish under his roof, earning him the title "Guru Bangsa." Film ini berlatar awal abad ke-20, di masa

Hingga akhir hayatnya pada tahun 1934, Tjokroaminoto tetap berada di garis depan pergerakan. Ia tidak pernah kompromi dengan penjajah. Sikap inilah yang membuat Belanda sangat ketakutan padanya.

The film opens with Tjokroaminoto (played by Reza Rahadian) witnessing the exploitation of Indonesian peasants and workers by Dutch colonialists and Chinese landlords. Despite his background as a priyayi (aristocrat), he feels deep empathy for the poor. He starts writing critical articles in newspapers and giving speeches against colonial injustice.

In 1912, he becomes the second chairman of Sarekat Islam (SI), transforming it from a traders' association into a political movement demanding independence. Plot film ini tidak hanya berhenti pada Tjokroaminoto

Tjokroaminoto's contributions to Indonesia's struggle for independence are significant:

Tjokroaminoto, Guru Bangsa, Sarekat Islam, Indonesian nationalist, mentor Sukarno Hatta Sjahrir, colonial Indonesia.